Jumat, 26 Desember 2014

*Sajak Mudah

Kaya itu perkara mudah. Banyak orang bisa kaya karena warisan. Tapi miskin setelah kaya, boleh jadi amat rumit. Ketika semua harta benda mulai pergi.

Berkuasa itu perkara ringan. Banyak orang yang berkuasa karena kebetulan. Tapi tiada kuasa setelah itu, boleh jadi membuat gelisah. Ketika tidak bisa lagi memberi perintah, sindrom paksa berkuasa.

Tenar dan sohor juga perkara gampang. Banyak orang tenar karena sesuatu yang artificial saja. Tapi dilupakan setelah itu, boleh jadi amat menyakitkan. Ketika tiada yang menyapa, pun apalagi yang memuja.

Pun sama

Memiliki itu adalah perkara sederhana. Banyak orang mendapatkan sesuatu dengan mudah. Tapi kehilangan setelah itu, boleh jadi adalah hakikat sejatinya. Ketika yang kita miliki pergi, selama-lamanya.

Apakah kita tetap merasa kaya? Berkuasa? Tenar?
Dan lebih penting lagi, tetap memiliki dalam kehilangan?

*Tere Liye

Cinta itu adalah …

Cinta itu adalah
Ketika kita selalu mengingat seseorang, tapi seseorang itu sama sekali tidak mengingat kita. Kita tetap yakin atas cinta kita.
Cinta itu adalah
Ketika kita selalu menjadi yang pertama peduli,selalu menjadi orang terakhir yang menyerah. Meski seseorang tersebut tidak tahu. Kita tetap selalu yakin atas cinta kita. Tidak berkurang walalu sejengkal.
Cinta itu adalah
Ketika kita mengorbankan milik kita, tanpa berharap seseorang akan membalasnya. Kita tetap bersedia melakukannya. Tidak berkurang rasa cinta.ya.
Cinta itu adalah
Ketika kita selalu lirih menyebut namanya dalam doa. Meski seseorang itu sedang tidur, jauh, bahkan tidak menyadarinya. Kita tetap berharap yang terbaik, tidak berkurang keyakinan kita.
Itulah cinta sejati. Tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Cinta seperti ini ada pada ibu kita. Baca ulang sajak ini dari awal, sambil membayangkan ibu kita. Semoga paham hakikat cinta yang baik.

*Tere Liye

*Mata Air Perasaan

"Memiliki" dan "Melepaskan"
Berasal dari mata air perasaan yang satu
Hanya berbeda tujuan alirannya
Tapi sejatinya sama
Memiliki bahkan bisa dalam bentuk melepaskan
Membiarkannya terbang bahagia
Pun melepaskan bisa selalu memiliki
Memiliki kenangan terbaik, memiliki cinta terbaik meski dilepaskan

"Mencintai" dan "Membenci"
Apalagi yang satu ini, kawan
Sungguh berasal dari mata air perasaan yang satu
Bening sekali mata air tersebut
Tapi kemudian berbeda alirannya karena egoisme
Padahal sejatinya sama
Banyak orang mencintai yang kemudian membenci
Dan lebih banyak lagi orang-orang yang membenci, namun dia sungguh mencintai
Menyebut namanya dalam senyap

"Rindu" dan "Melupakan"
Juga berasal dari mata air perasaan yang satu
Mengalir deras begitu sejuk muasalnya
Tapi kemudian berbelok masing-masing sesuai keinginan
Asalnya sih sama saja
Bukankah banyak kerinduan saat kita hendak melupakan
Dan tidak terbilang keingin melupakan dalam rindu

Di dunia ini, jika kita duduk takjim di tepi sungai kehidupan. Kita bisa merasakan hakikat perasaan-perasaan. Dan kadangkala, sesuatu yang terlihat bertolak-belakang sejatinya berasal dari hal yang sama
Inilah sajak mata air perasaan. Tidak mengapa terpaksa melepaskan demi memiliki.  Tergugu cinta dalam kebencian. Pun rindu dalam usaha melupakan. Sepanjang patuhi rambu-rambu agamanya. Jangan merusak diri sendiri dan orang lain. Kita manusia, besok lusa semoga jadi lebih baik

*Tere Liye

Jumat, 12 Desember 2014

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

"Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu... Saling mempengaruhi, saling berinteraksi... Sungguh kalau dilukiskan peta itu maka bagai bola raksasa dengan jutaan warna yang saling melilit, menjalin, melingkar-lingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit." _Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

"Begitulah kehidupan, ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri."_Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

"Andaikata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan. Kemudian kau akan membenak pasti ada sesuatu yang jauh lebih indah dari menatap rembulan di langit. Kau tidak tau apa itu, karna ilmumu terbatas. Kau hanya yakin, bila tidak di kehidupan ini suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih mempesona dibanding menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar indah."_Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

"Hanya orang-orang dengan hati damailah yang boleh menerima kejadian buruk dengan lega."_Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

"Semua orang selalu diberikan kesempatan unuk kembali. Sebelum maut menjemput, sebelum semuanya benar-benar terlambat. Setiap manusia diberikan kesempatan untuk mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal hidupnya."_Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu.

Selasa, 09 Desember 2014

Sajak Tere Liye

*Sajak "Embun & Perasaan

Kenapa embun itu indah
Karena butir airnya tidak menetes. Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun.

Kenapa purnama itu elok
Karena bulan balas menatap di angkasa. Sekali dia bergerak, tidak ada lagi purnama

Aduhai, mengapa sunset itu menakjubkan
Karena matahari menggelayut malas di kaki langit. Sekali dia melaju, hanya tersisa gelap dan debur ombak

Mengapa pagi itu menentramkan dan dingin
Kareba kabut mengambang di sekitar. sekali dia menguap, tidak ada lagi pagi.

Di dunia ini, ada banyak sekali momen-momen terbaik. Meski singkat, sekejab. Yang jika belum terjadi langkah berikutnya, maka dia akan selalu special.
Sama dengan kehidupan kita, perasaan kita.
Menyimpan perasaan itu indah. Karena penuh misteri dan menduga. Sekali dia tersampaikan, tidak ada lagi menyimpan.
Menunggu seseorang itu elok. Karena kita terus berdiri setia. Sekali dia datang, tidak ada lagi menunggu
Bersabar itu sungguh menakjubkan. karena kita terus berharap dan berdoa. Sekali masanya tiba, tiada lain kecuali jawaban dan kepastian.

Sungguh tidak ada keliru bagi orang-orang yang paham. Masa singkat itu begitu berharga.